PUISI UNTUK KAWAN

September 8, 2008 at 6:25 am (Uncategorized)

Jawaban Untukmu

untuk seorang kawan

Mungkin aku harus mengatakannya padamu
Walau, kutahu kau sulit menerima jawabku
Lewat sepu
cuk surat tak bernama

Aku haturkan seuntai resahku

Tentang jalan yang kutempuh
Yang tak seorangpun mau rengkuh
Sebab t
ak tahu jalan ini berakhir ke mana
Ini buk
anlah jalan yang nyaman! Sekali-kali bukan!
[Sementara kau menuduhku berleha-leha]
Malahan, begitu berduri dan menanjak
Terkadang aku menangis dalam diam, kau kan tak tahu itu
Dan rasa sakitnya mencabik-cabik jiwaku
Sebegitu perih jalanku, aku menyimpannya dalam tawa
Tapi, apakah aku harus mundur karenanya?
Sebab aku bukanlah pengecut, aku melawan takut.

Kisah ini memang hanya diperuntukkan bagiku
Akulah yang menulis awal cerita
Aku pulalah yang mengakhirinya
Karena aku seorang laki-laki
Dan laki-laki harus menepati janji
Walau bisa jadi kisah ini tak berakhir bahagia
Mungkin saja aku terperosok jurang, lalu mati
Namun setidaknya aku berjuang atas apa yang kupercayai
Sehingga matipun, masih memiliki arti

Kau mungkin tak pernah tahu
Bahwa aku pun merindukan teman seperjalanan
Sebab keterasingan membawakan dendam
Hei, pandanglah aku sebagai manusia
Bukan sebagai mesin tak bernyawa
Ada kalanya aku begitu lemah, dan butuh pertolongan
Hanya saja, aku tak tahu bagaimana meminta
Sebab akulah serigala yang diasuh oleh buasnya kehidupan
Sehingga taring-taringku begitu tajam
Dan cakar-cakarku meruncing seram
Dalam perjalanan panjang, aku berburu sendirian
Aku hanya tahu bertarung, bukan bercinta
Selama ini, hanya angin lalu jadi kawan bicara
Dalam rintik hujan, aku melolongkan kesedihan
Hidup dalam membangkang, berbeda dan tak serupa
Hingga rembulanku pun mengutukku nista
Lalu makhluk lain mengintip dalam dusta

Walau demikian, aku tak ingin menyakiti siapapun
Sebab jalan ini sangatlah licin dan curam
Tak banyak yang mau melaluinya
Ataupun selamat mengakhirinya
Dalam pengembaraan, kulihat mayat-mayat bergeletakan
Lalu, haruskah aku menyeret seseorang?
Hanya demi kegembiraan seorang resah,
Sehingga aku mengorbankan tumbal
Sampai langit mengungkapkan takdir
Sampai matahari menerakan cahya
Dan menyuruhku beristirahat dalam selimut dunia
Aku takkan berhenti
Aku kan terus berlari
Walau sendiri mengundang sedih

Kusudahi surat ini dengan harapan
Agar kau jangan coba menghakimi
Sekali-kali jangan! Sebab resah dapat menjadi amarah
Dan kau sama sekali tidak mengenalku
Hidup dan jiwaku seperti labirin
Yang manusia tak tahu apa dibaliknya

Begitulah aku, sebegitu pula jalanku.

Bandung, 25 Oktober 2005

4 Comments

  1. De_ntres said,

    subhanallah ya akhi dirimu memeng begitu sangat kreatif aku bangga padamu terima kasih kau mau meneruskan cita-citaku.dan jangn lupa selalu ingat kepada allah.ok!!!

  2. Kagoyama said,

    Ya Allah di zaman yang seperti ini masih ada orang sepertimu yang menciptakan suatu karya begitu inspiratif, subhanallah ya akhi aku salut padamu padahal zaman saat ini telah berubah dan sampai tak ada lagi yang mau membuat karya-karya yang begitu indah dan menyentuh.

  3. najibudinabdullah said,

    ingat bung, jangan hanya terpaku memandang awan kelabu itu. tapi ingat juga, kau harus mengembara ke negri sana. suatu negri yang berawankan pelangi dan berladangkan permadani.

  4. yanie said,

    q bngung mo comment apa yang psti q salut dengan karyamu, truslah berkarya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: